
Info Papua Selatan, SOLO - Pengembangan Solo sebagai destinasi sport tourism tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghadirkan event Olahraga dan mencetak prestasi. Di balik ambisi tersebut, masih terdapat pekerjaan rumah dalam hal pendataan atlet. Salah satunya menyangkut Si Sakti, sistem informasi keolahragaan yang digunakan dalam pendataan dan verifikasi atlet untuk penyelenggaraan Porprov Jawa Tengah.
Ketua KONI Solo Her Suprabu menjawab pertanyaan wartawan terkait aplikasi Si Sakti di Griya Solopos, Minggu (30/8/2026). Foto: Joseph Renwarin
Info Papua Selatan, SOLO - Pengembangan Solo sebagai destinasi sport tourism tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghadirkan event Olahraga dan mencetak prestasi. Di balik ambisi tersebut, masih terdapat pekerjaan rumah dalam hal pendataan atlet. Salah satunya menyangkut Si Sakti, sistem informasi keolahragaan yang digunakan dalam pendataan dan verifikasi atlet untuk penyelenggaraan Porprov Jawa Tengah.
Hal itu mengemuka dalam konferensi pers bersama Ketua KONI Solo Her Suprabu, didampingi Syifaul Arifin, Head Solopos Institute, di Griya Solopos, Minggu (30/8/2026). Dalam pertemuan tersebut pembahasan utama diarahkan pada upaya menjadikan Solo sebagai destinasi unggulan sport tourism melalui tiga kekuatan, yakni penyelenggaraan event olahraga, pembinaan prestasi, dan penguatan ekonomi daerah.
Namun, ketika sesi konferensi pers berlanjut ke doorstop, perhatian kemudian mengarah pada persoalan yang lebih teknis: Si Sakti dan nasib atlet yang belum terverifikasi. Sejumlah atlet Solo disebut telah mengikuti dan lolos tahapan seleksi, tetapi masih menghadapi kendala dalam proses verifikasi melalui sistem tersebut.
Si Sakti pertama kali diluncurkan pada 17 Maret 2023 oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Ganjar Pranowo, di Gedung Gradhika Bhakti Praja. Sistem tersebut diharapkan membantu proses pendataan dan verifikasi atlet secara lebih terintegrasi dalam penyelenggaraan Porprov Jawa Tengah.
Bagi KONI Solo, persoalan muncul ketika data atlet yang sudah menjalani proses seleksi belum seluruhnya terverifikasi. Keluhan dari atlet pun sampai ke pengurus KONI Solo. Her Suprabu membenarkan kondisi tersebut saat ditemui awak media dalam doorstop.
“Memang benar atlet kami banyak yang belum terverifikasi dan hal itu sudah kami sampaikan ke KONI Jateng dengan melayangkan surat,” ujar Her.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan olahraga menuju konsep sport tourism tidak cukup hanya dengan menghadirkan event besar. Data atlet, proses verifikasi, pembinaan, hingga kesiapan administrasi menjadi bagian penting dari ekosistem olahraga. Ketika sistem pendataan mengalami kendala, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh atlet yang berada di lapangan.
Di sisi lain, tiga pilar yang disampaikan dalam konferensi pers event, prestasi, dan ekonomi—menjadi peluang besar bagi Solo. Event olahraga dapat mendatangkan peserta dan penonton, prestasi atlet memperkuat citra Solo sebagai kota olahraga, sementara pergerakan orang selama kegiatan olahraga berpotensi menghidupkan hotel, kuliner, transportasi, UMKM, hingga sektor pariwisata lainnya.
Karena itu, persoalan Si Sakti menjadi catatan tersendiri di tengah upaya Solo membangun ekosistem sport tourism. Ambisi menjadikan Solo sebagai kota tujuan olahraga membutuhkan bukan hanya event yang menarik, tetapi juga sistem pendataan yang rapi dan mampu memastikan setiap atlet yang berhak dapat terakomodasi.
Bagi KONI Solo, penyelesaian persoalan verifikasi tersebut kini berada pada ranah koordinasi dengan KONI Jawa Tengah. Surat resmi telah dilayangkan sebagai bentuk penyampaian persoalan sekaligus upaya mencari solusi agar atlet yang telah memenuhi tahapan seleksi tidak terkendala oleh persoalan administrasi dalam sistem.* JR