Gali Potensi Petani, Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University Identifikasi Permasalahan dan Potensi Penangkar Benih Padi di Distrik Tanah Miring

MERAUKE, PAPUA SELATAN — Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University melaksanakan focus group discussion (FGD) bersama calon penangkar benih padi di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke (24/08). Kegiatan ini menjadi bagian dari Ekspedisi Patriot 2026 untuk menggali potensi, pengalaman, kebutuhan, serta kesiapan petani dalam mengembangkan usaha penangkaran benih padi.

Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University 2026 bersama PPL Kampung Sermayam Indah, Sekretaris Distrik Tanah Miring, Kepala Kampung Sermayam Indah, dan Staff Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua Selatan

MERAUKE, PAPUA SELATAN — Tim 2 Ekspedisi Patriot IPB University melaksanakan focus group discussion (FGD) bersama calon penangkar benih padi di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke (24/08). Kegiatan ini menjadi bagian dari Ekspedisi Patriot 2026 untuk menggali potensi, pengalaman, kebutuhan, serta kesiapan petani dalam mengembangkan usaha penangkaran benih padi.

 Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh 39 peserta terdiri atas petani padi yang terdiri atas penangkar benih padi aktif, petani padi biasa, dan narasumber. Berdasarkan hasil rekap terhadap 31 responden, mayoritas petani yang hadir merupakan laki-laki, yaitu 28 orang atau 90,3 persen, dengan rata-rata usia 48,7 tahun. Dari sisi usaha tani, sebanyak 18 responden atau 58,1 persen memiliki lahan padi lebih dari dua hektare. Sebanyak 25 orang atau 80,6 persen juga menanam padi dua kali dalam setahun.

Dari aspek sumber benih, bantuan pemerintah menjadi sumber utama bagi 14 responden atau 45,2 persen, disusul benih yang disimpan sendiri sebanyak 11 orang atau 35,5 persen. Kondisi ini menunjukkan peluang untuk meningkatkan kemandirian petani melalui penguatan kapasitas produksi dan pengelolaan benih.

Di sisi lain, potensi pengembangan penangkaran cukup besar. Sebanyak 28 responden atau 90,3 persen bersedia mengikuti sekolah lapang dan pelatihan hingga selesai. Selain itu, 25 orang atau 80,6 persen bersedia mengikuti tahapan sertifikasi atau produksi benih secara mandiri serta melanjutkan aktivitas sebagai penangkar benih mandiri.

Dalam kelompok tani, 18 responden atau 58,1 persen tergolong aktif. Sementara itu, 17 orang atau 54,8 persen menyatakan siap mengembangkan usaha penangkaran benih.

Kebutuhan utama yang disampaikan petani adalah pengetahuan berupa pendampingan, dipilih 14 responden atau 45,2 persen, diikuti akses pasar sebesar 29 persen dan bantuan alsintan sebesar 22,6 persen. Adapun alasan utama mengikuti program adalah keinginan menambah pengetahuan, mencapai 61,3 persen.

Hasil FGD menjadi dasar rekomendasi Tim 2 berupa pelatihan dan sekolah lapang, praktik atau demplot produksi benih, pendampingan sertifikasi dan pengolahan, serta penguatan pemasaran. Pendampingan berkelanjutan diharapkan mampu mendorong potensi petani Tanah Miring menjadi kekuatan dalam penyediaan benih padi bermutu di Merauke.

FGD turut mengidentifikasi sejumlah kendala sarana dan prasarana. Beberapa fasilitas yang masih belum dimiliki atau terbatas antara lain seed cleaner, sealer, blower, alat uji kadar air, gudang ber-AC, dan kantor. Keterbatasan tersebut menjadi tantangan dalam mendukung proses produksi dan pengolahan benih bermutu.

 

#Merauke
SHARE :
AGENDA
LINK TERKAIT