
Rencananya konser akan digelar pekan depan di Merauke. Setelah itu kami lanjutkan di Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.
Ketua IMPAS
Merauke – Di tengah situasi keamanan yang sempat memanas di beberapa wilayah Papua Selatan, para musisi dan penyanyi lokal memilih untuk bersuara lewat musik. Ikatan Musisi dan Penyanyi Papua Selatan (IMPAS) akan menggelar konser besar bertajuk “Nyanyian Damai bagi Papua Selatan” sebagai bentuk seruan moral untuk menjaga kebersamaan dan kedamaian di tanah Anim Ha.
Ketua Umum IMPAS Papua Selatan, Soleman Jambormias, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif bersama para musisi dan penyanyi lokal yang ingin menyampaikan pesan damai melalui lagu.
“Rencananya konser akan digelar pekan depan di Merauke. Setelah itu kami lanjutkan di Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Kami menunggu kehadiran Bapak Gubernur, jadi jadwalnya sedikit disesuaikan,” ujarnya kepada media di Merauke, Kamis (6/11/2025).
Soleman mengatakan, konser ini lahir dari kepedulian terhadap kondisi sosial yang mulai terganggu oleh isu dan kekerasan. Melalui musik, IMPAS ingin mengingatkan masyarakat bahwa Papua Selatan sejak dulu adalah tanah yang diberkati, tempat di mana masyarakat dari berbagai suku dan agama hidup rukun.
“Saudara-saudara kita orang asli Papua Selatan sudah menerima para pendatang dengan kasih dan persaudaraan sejati. Sekarang giliran kita semua menjaga agar Papua Selatan tetap jadi rumah yang aman dan nyaman bagi siapa saja,” katanya.
Selain menggaungkan pesan damai, IMPAS juga mengajak masyarakat untuk menggunakan media sosial secara positif, tidak menyebar ujaran kebencian atau provokasi yang bisa memecah belah.
“Kita akan kampanyekan agar medsos digunakan untuk hal-hal yang menumbuhkan persatuan,” ujarnya.
Dorong Perda Perlindungan Musisi Lokal
Soleman juga mengungkapkan bahwa IMPAS tengah mempersiapkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPR Papua Selatan untuk membahas rencana Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan dan hak-hak musisi lokal.
“Selama ini kita sering datangkan artis dari luar, dibayar 40 sampai 70 juta hanya untuk tiga lagu. Sementara anak-anak Papua Selatan yang punya talenta besar hanya diberi 500 ribu sampai 1 juta. Ini harus berubah,” tegasnya.
Melalui Raker IMPAS, organisasi tersebut telah sepakat untuk mengembangkan potensi musisi daerah secara profesional, termasuk pelatihan vokal, pengelolaan karya, dan tata kelola pertunjukan yang lebih baik.
“Kami ingin agar penyanyi dan musisi lokal tidak hanya dihargai secara layak, tapi juga terus berkembang supaya musik Papua Selatan bisa diterima secara luas,” pungkasnya. (LBS)