
Semoga pihak-pihak yang bertanggung jawab dapat benar-benar memperhatikan pembangunan jalan ini.
Kondisi jalan yang rusak dan berlumpur (Foto: Istimewa)
Sejak tahun 1980-an, Jalan Samkai yang menghubungkan Distrik Okaba dan Distrik Ngguti menyimpan kisah panjang yang tak kunjung menemukan ujungnya.
Jalan itu bukan sekadar jalur tanah merah yang membelah hutan dan rawa, tetapi satu-satunya nadi yang menghubungkan ekonomi, keluarga, dan harapan warga di pesisir selatan Papua.
Di sebuah sore yang teduh di Kampung Yawimu, seorang lelaki tua duduk di teras rumahnya. Bapak Leo Ndiwai, kini berusia 70 tahun, mengelus jenggot putihnya yang tumbuh rapi seperti menandai pengalaman panjang yang telah ia lalui bersama jalan Samkai.
Tatapannya diarahkan ke jalur tua itu, seakan memanggil kembali kenangan empat dekade lalu.
“Dari dulu sampai sekarang, jalan ini sangat penting untuk kami,” ujarnya membuka percakapan dengan suara yang tenang namun sarat makna.
Menurut Leo, kerusakan jalan Samkai berdampak besar pada kehidupan masyarakat. Harga kebutuhan melonjak tinggi karena sulitnya akses distribusi.
Bensin yang normalnya Rp10.000 per liter dapat mencapai Rp40.000 per liter ketika tiba di kampung. Begitu pula harga sembako yang ikut melambung. Segala kebutuhan yang datang dari luar wilayah seakan memiliki beban tambahan, jarak, lumpur, dan kelelahan.
“Kita tidak tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab membangun jalan ini. Tapi kami berharap jalan ini bisa diperbaiki supaya perekonomian kami terbantu,” tegasnya saat ditemui di kediamannya, Senin (10/11). Kata-katanya sederhana, namun mengandung harapan yang telah puluhan tahun belum terjawab.
Keluhan serupa datang dari para sopir dan driver proyek pembangunan yang pernah melintasi jalan tersebut. Mereka mengaku terkejut, bahkan tidak menyangka masih ada wilayah dengan kondisi jalan seberat ini.
“Kami tidak menyangka masih ada daerah dengan akses jalan seperti ini,” ungkap seorang sopir yang enggan disebutkan namanya.
Ia bercerita baru saja menempuh perjalanan dari Okaba menuju Distrik Ngguti yang seharusnya dapat ditempuh cepat, namun kenyataannya menghabiskan hampir satu hari penuh.
Jalan berlumpur, licin, terjal, dan dipenuhi kubangan membuat kendaraan sering mogok, terperosok, bahkan memaksa mereka berhenti dan bermalam di tengah perjalanan. Malam turun bukan hanya membawa gelap, tetapi juga risiko.
Sebelum mengakhiri kisahnya, sopir itu berharap hal yang sama seperti warga:
“Semoga pihak-pihak yang bertanggung jawab dapat benar-benar memperhatikan pembangunan jalan ini.”
Jalan Samkai bukan sekadar jalur lama yang rusak. Ia adalah simbol ketimpangan pembangunan, garis tipis yang menentukan apakah harga hidup akan murah atau mencekik, apakah anak-anak bisa berkembang atau terhambat, dan apakah sebuah distrik dianggap maju atau ditinggalkan.
Hingga kini, perjalanan masih panjang. Namun seperti jalan itu sendiri, harapan masyarakat tetap terbentang meski berkali-kali dilalui lumpur dan rintangan. (JR)