Kali Mawek, Nadi Kehidupan yang Mulai Tersengal

Semoga pemerintah bisa melakukan pengawasan terhadap limbah yang dibuang perusahaan

Gabriel Salohe pemuda asal kampung Nakias.

Info Papua Selatan - Nakias, Kali Mawek pernah menjadi anugerah bagi masyarakat adat Nakias. Airnya yang jernih mengalir dari hutan, menjadi sumber kehidupan: untuk minum, memasak, mandi, bahkan tempat anak-anak belajar berenang sambil bercanda di tepian kali. Bagi orang Nakias, Kali Mawek bukan sekadar aliran air—ia adalah “nadi” yang menghidupkan tanah, manusia, dan adat.

Namun, wajah Kali Mawek kini berubah. Sejak beroperasinya perusahaan kelapa sawit di wilayah tersebut, sungai yang dulu bening perlahan kehilangan kejernihannya. Air mulai berwarna keruh, berbau, dan tak lagi aman digunakan.

Gabriel Salohe, seorang pemuda asal Nakias, menyimpan kegelisahan besar. Saat ditemui di kediamannya, Selasa (11/11), ia menghembuskan napas panjang sebelum berbicara.

“Perlu ada ketegasan terkait sumber limbah,” ujarnya. “Kami berharap pemerintah, khususnya dinas lingkungan hidup, memberi perhatian serius.”

Baginya, persoalan sawit tidak hanya soal pemasukan daerah atau besarnya investasi. Ia melihat ada harga lain yang sedang dibayar, dan itu jauh lebih mahal: kehidupan masyarakat di sekitar konsesi sawit yang perlahan tergerus.

“Kami ini manusia yang hidup tergantung dari alam, salah satunya air,” ucapnya, suaranya bergetar, seolah menahan rasa putus asa. “Kalau air sudah tercemar, bagaimana kami mau menggunakannya?”

Air bagi orang Nakias adalah hidup. Ia bukan komoditas, bukan fasilitas, tetapi bagian dari identitas. Ketika air rusak, maka rusak pula keberlangsungan hidup, adat, dan generasi berikutnya.

Gabriel berharap, pemerintah tidak tutup mata. Pengawasan ketat terhadap limbah perusahaan menjadi keharusan, bukan sekadar imbauan yang tak pernah dijalankan. Baginya, masyarakat tidak menolak pembangunan. Mereka hanya ingin pembangunan berjalan tanpa mengorbankan hak hidup orang kecil.

“Semoga pemerintah bisa melakukan pengawasan terhadap limbah yang dibuang perusahaan,” harap Gabriel.

Kali Mawek kini menunggu, menanti apakah ia akan dipulihkan sebagai sumber kehidupan, atau dibiarkan membusuk perlahan oleh tangan yang mengaku membawa pembangunan. Masyarakat Nakias juga menunggu: apakah suara mereka akan didengar, atau kembali tenggelam bersama arus sungai yang kian tercemar.

Sebab bagi mereka, menyelamatkan Kali Mawek bukan hanya urusan lingkungan. Itu soal menyelamatkan masa depan. JR

AGENDA
LINK TERKAIT