Ketika Hutan Dibawa Pulang: Inspirasi Kecil dari Kuemsit untuk Dunia

merawat alam bukan soal fasilitas, bukan soal besar atau kecilnya lahan melainkan soal niat dan cinta

Piter dan seorang anak yang membantunya merawat tanaman (Foto: Istimewa)

Di Kampung Kuemsit, berdiri sebuah rumah sederhana yang tampak begitu akrab dengan alam. Rumah itu tidak memiliki tembok seperti rumah pada umumnya—hanya berdiri dari kayu dan anyaman, terbuka bagi angin, cahaya, dan suara hutan. Namun justru dari kesederhanaan itulah tumbuh sebuah inspirasi besar.


Pemilik rumah itu adalah Bapak Piter Yolmen, seorang pria bersahaja dengan hati yang lembut terhadap alam. Baginya, alam bukan hanya tempat untuk hidup, tetapi sahabat yang harus dijaga dan dihormati.


Suatu hari, Piter melihat sebuah video di Facebook yang mengubah cara pandangnya. Video itu memperlihatkan orang-orang di kota yang tinggal jauh dari hutan, tetapi merawat tanaman dalam sebuah green house. Mereka menanam dengan sepenuh hati, meski tanah mereka terbatas dan alam bukan bagian langsung dari hidup sehari-hari.


Piter tersentuh.

“Kalau mereka yang jauh dari hutan saja bisa rawat alam, bagaimana dengan kita yang tinggal di tengah-tengah alam?” pikirnya.


Dari pertanyaan itu, lahirlah tekad.

Tanpa tembok yang membatasi pandang, halaman rumah Piter perlahan menjadi ruang hidup hijau, seperti hutan kecil yang tumbuh di halaman. Ia menanam aneka tanaman, pohon hutan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, hingga tanaman obat. Ia menyiram, merawat, dan menjaga setiap daun seakan merawat anak sendiri.


Bagi sebagian warga kampung, apa yang dilakukan Piter mungkin terlihat aneh dan tidak biasa. Namun Piter tahu, ia sedang menanam sesuatu yang lebih penting dari pohon. 


Rumah sederhana tanpa tembok itu kini menjadi tempat belajar. Anak-anak muda sering singgah ada yang hanya melihat, ada yang bertanya, bahkan ada yang mulai ikut menanam. Tanpa ceramah panjang, Piter sedang memberi teladan bahwa mencintai alam bisa dimulai dari ruang sekecil halaman rumah.


“Kita mulai dari dekat dulu. Kalau halaman saja tidak bisa kita rawat, bagaimana kita mau jaga hutan yang besar?” ujarnya pelan.


Bagi Piter, merawat alam bukan soal fasilitas, bukan soal besar atau kecilnya lahan melainkan soal niat dan cinta. Ia percaya, menjaga hutan bukan tugas segelintir orang, tetapi tanggung jawab moral setiap manusia, terutama mereka yang hidup berdampingan dengan alam.


Langkah kecil seorang Piter Yolmen mungkin terdengar sederhana. Namun dari kesederhanaan rumah tanpa tembok itu, ia telah membuka jendela inspirasi bagi generasi muda, bahwa mencintai alam tidak menunggu kaya, modern, atau memiliki fasilitas mewah.


Karena cinta yang tulus pada alam justru tumbuh dari hati yang paling sederhana.


Dan siapa tahu, dari halaman kecil di Kuemsit inilah, lahir gerakan besar yang menyebar hingga ke dunia. (JR)

AGENDA
LINK TERKAIT