Pinjam Rp1 Juta Demi Rekam Lagu Warisan Orang Tua, Perjuangan Ben Bae Band dari Mindiptana hingga Tampil di Merauke

Berbekal uang pinjaman dan tekad yang kuat, anak-anak dari Mindiptana ini berjuang mewujudkan cita-cita orang tua mereka untuk mengabadikan lagu-lagu warisan keluarga.

Foto bersama Ben Bae Bae, Sanggar Kon Wap, Melanesia Boi

Berbekal uang pinjaman dan tekad yang kuat, anak-anak dari Mindiptana ini berjuang mewujudkan cita-cita orang tua mereka untuk mengabadikan lagu-lagu warisan keluarga.

MERAUKE — Tidak semua perjalanan musik dimulai dengan fasilitas yang memadai dan biaya yang cukup. Ada perjalanan yang lahir dari cinta kepada orang tua, tanggung jawab terhadap warisan keluarga, dan keinginan menjaga budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Inilah kisah perjuangan Ben Bae Band, grup musik asal Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.

Ben Bae Band bukan sekadar kelompok musik. Grup ini merupakan penerus warisan musikal orang tua mereka yang memiliki impian agar lagu-lagu ciptaan mereka suatu hari dapat direkam dan diabadikan.

Impian yang belum sempat terwujud itu kini menjadi tanggung jawab anak-anak mereka.

Dengan segala keterbatasan, para personel Ben Bae Band memberanikan diri melakukan perjalanan dari Mindiptana menuju Merauke.

Untuk membiayai perjalanan tersebut, mereka harus meminjam uang sebesar Rp1 juta. Namun, uang itu ternyata belum mencukupi. Mereka masih kekurangan sekitar Rp600 ribu untuk kebutuhan transportasi.


Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka.

Mereka tetap berangkat. Bukan untuk mengejar popularitas atau keuntungan, melainkan untuk mewujudkan sebuah impian yang diwariskan orang tua mereka.

Sesampainya di Merauke, perjuangan mereka mendapat dukungan dari Komunitas Seni Budaya NUPKA (Nada Untuk Pelestari Kati).

Melalui fasilitasi komunitas tersebut, Ben Bae Band akhirnya berhasil merekam dua lagu sebagai langkah awal untuk mengabadikan karya orang tua mereka.

Perjalanan mereka kemudian mendapat kesempatan untuk diperkenalkan kepada masyarakat melalui panggung “Muyu Dalam Satu Nada”, yang digelar pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026, di kawasan Tugu Libra, Merauke.

Penampilan tersebut menjadi bagian dari kegiatan memperingati 93 tahun masuknya Injil di Ninati, Tanah Muyu.

Malam itu, Ben Bae Band tidak hanya tampil membawakan musik. Mereka juga membawa sebuah cerita tentang perjuangan anak-anak yang ingin meneruskan cita-cita orang tua mereka.

Di balik setiap lagu, tersimpan kenangan, identitas, dan warisan budaya yang ingin mereka pertahankan.

Penampilan di Merauke bukanlah akhir dari perjalanan Ben Bae Band.

Setelah berhasil merekam dua lagu dan tampil secara langsung di hadapan masyarakat, mereka berencana melanjutkan proses rekaman untuk menyelesaikan album yang telah lama menjadi impian keluarga.

Perjalanan itu masih membutuhkan perjuangan, dukungan, dan pengorbanan.

Namun, kisah Ben Bae Band telah memperlihatkan bahwa menjaga warisan budaya tidak selalu harus dimulai dengan uang yang banyak.

Terkadang, semuanya dimulai dari keberanian meminjam uang untuk membeli tiket perjalanan, meninggalkan kampung halaman, dan membawa harapan yang dititipkan oleh generasi sebelumnya.

Sebab bagi mereka, lagu-lagu itu bukan sekadar musik. Lagu-lagu tersebut adalah suara orang tua, kenangan keluarga, dan bagian dari identitas budaya Muyu yang harus tetap hidup.

Dari Mindiptana menuju Merauke, mereka telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Dan melalui Ben Bae Band, sebuah impian yang diwariskan orang tua kini perlahan mulai menjadi kenyataan.

Mereka datang bukan membawa kekayaan, tetapi membawa warisan yang nilainya jauh lebih besar daripada uang.

Ben Bae Band - Dari cinta kepada orang tua, lahirlah perjuangan untuk menjaga warisan budaya.

AGENDA
LINK TERKAIT