
PT BIA mengundang media untuk membangun komunikasi dan kerja sama, sekaligus menunjukkan transparansi perusahaan terhadap keberlanjutan
Foto bersama Tim Media (Foto: IPS)
Merauke, 24 November 2025 — PT Bio Inti Agrindo (BIA) memulai rangkaian Media Visit 24–26 November 2025 sebagai upaya memperkuat keterbukaan informasi sekaligus menunjukkan secara langsung komitmen perusahaan terhadap pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Undangan resmi yang diterima Info Papua Selatan menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka ruang komunikasi yang lebih erat antara perusahaan dan media mitra. Agenda berlangsung selama tiga hari, dimulai dari titik kumpul di Kantor PT BIA Merauke pada pukul 10.00 WIT.
Renate R.T Rahaor, Operational Manager ECCDP PT BIA, menyebut kegiatan hari pertama sebagai momen penting untuk memperlihatkan praktik transparansi di lapangan.
“PT BIA mengundang media untuk membangun komunikasi dan kerja sama, sekaligus menunjukkan transparansi perusahaan terhadap keberlanjutan,” ujar Renate saat diwawancarai pada pembukaan kegiatan.
Agenda pertama membawa rombongan akan menuju kebun plasma, yaitu kebun milik masyarakat pemilik ulayat. Renate menjelaskan bahwa sesuai ketentuan, perusahaan wajib menyerahkan 20% dari total HGU untuk dikelola langsung oleh masyarakat.
“Plasma ini adalah kebun masyarakat. Mereka mengelola sendiri kebun ulayat mereka. Dan kewajiban 20% itu sudah kami jalankan sepenuhnya,” tegasnya.
Di lokasi tersebut, media melihat langsung bagaimana kebun plasma dikelola melalui Koperasi Mandob Sejahtera, koperasi resmi milik marga yang mengatur tata kelola, distribusi hasil, serta pendapatan yang diterima masyarakat.
Setelah itu, Media Visit berlanjut ke pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT BIA. Di sini rombongan menyaksikan proses pengolahan buah sawit (FFB) menjadi CPO, termasuk alur hasil panen plasma yang langsung masuk ke jalur produksi pabrik.
Hari pertama juga difokuskan pada edukasi mengenai High Conservation Value (HCV), yaitu kawasan bernilai konservasi tinggi yang dilindungi dan tidak boleh dibuka untuk aktivitas perkebunan.
“Areal-areal sakral ini harus disisakan. Mereka tidak boleh dibuka di dalam areal perusahaan,” jelas Renate.
Sebagai penutup agenda hari pertama, rombongan media akan diajak naik ke Menara Pantau untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang area kebun, blok HCV, dan struktur ruang PT BIA dari ketinggian. (LBS)