
Alo dan jalan menuju mimpi yang lebih jauh
Momen Foto bersama (Foto: istimewa)
Ada pertemuan yang datang tanpa direncanakan. Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah
perjumpaan sederhana di tanah Papua akan menumbuhkan ikatan yang begitu dalam antara
seorang prajurit TNI, Tisantro Sitanggang, dan seorang anak bernama Alo.
Bagi Tisantro, Alo bukan sekadar seorang anak yang ia temui di tengah tugas. Perlahan, Alo
tumbuh menjadi sosok yang ia sayangi seperti keluarga sendiri. Ada perhatian yang tidak dibuat-
buat, ada kepedulian yang tidak mengenal batas, dan ada kasih yang diberikan bukan karena
kewajiban, melainkan karena hati.
Di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai prajurit, Tisantro menemukan sesuatu yang jauh
lebih besar dari sekadar tanggung jawab.
Ia menemukan seorang anak Papua yang membutuhkan
seseorang untuk percaya kepadanya.
Ketika seorang prajurit memilih untuk membuka hati
Pertemuan Tisantro dengan Alo menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang.
Tisantro melihat bahwa Alo adalah anak yang memiliki rasa ingin tahu, memiliki impian, dan
memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Namun, seperti banyak anak lainnya, terkadang
sebuah mimpi membutuhkan seseorang untuk menyalakan jalannya.
Tisantro kemudian hadir di sana.
Ia tidak hanya memberikan bantuan ketika Alo membutuhkan sesuatu. Ia berusaha hadir dalam
berbagai sisi kehidupan Alo. Mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, sopan santun, pendidikan,
hingga bagaimana seorang anak harus berani bermimpi dan percaya bahwa dirinya mampu
mencapai sesuatu yang lebih besar.
Kasih sayang Tisantro kepada Alo tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata besar. Justru sering
kali ia terlihat dari hal-hal sederhana: perhatian terhadap keseharian Alo, kepedulian terhadap
pendidikannya, nasihat ketika Alo melakukan kesalahan, dan dorongan ketika Alo mulai merasa
ragu.
Seperti seorang ayah yang melihat anaknya tumbuh, Tisantro ingin memastikan bahwa langkah
Alo tidak berhenti hanya karena keadaan.
Cinta yang tidak mengenal perbedaan
Ada sesuatu yang istimewa dari cara Tisantro memandang anak-anak Papua.
Baginya, mereka bukan sekadar bagian dari tempat di mana ia bertugas. Mereka adalah anak-
anak yang memiliki mata penuh harapan, hati yang tulus, dan mimpi yang sama berharganya
dengan mimpi anak-anak di mana pun.Tisantro seolah ingin mengatakan melalui tindakannya bahwa anak Papua juga berhak
dicintai, didengar, didampingi, dan diberikan kesempatan untuk tumbuh setinggi-
tingginya.
Ia tidak melihat warna kulit. Tidak melihat asal daerah. Tidak melihat perbedaan latar belakang.
Yang ia lihat adalah seorang anak.
Seorang anak yang membutuhkan tangan untuk menggenggamnya ketika takut.
Seseorang yang membutuhkan bahu untuk bersandar ketika lelah.
Seseorang yang membutuhkan suara yang berkata, “Kamu bisa.”
Dan Tisantro berusaha menjadi sosok itu.
Kasih sayangnya kepada Alo seperti mata air yang terus mengalir—tidak banyak berbicara
tentang dari mana air itu berasal, tetapi selalu ada ketika seseorang membutuhkannya.
Alo dan jalan menuju mimpi yang lebih jauh
Dari kedekatan tersebut, perlahan terbuka sebuah jalan baru bagi Alo.
Ia mendapatkan kesempatan untuk melihat dunia yang lebih luas dan melanjutkan pendidikan di
luar Papua. Sebuah kesempatan yang mungkin pada awalnya terasa seperti perjalanan yang
terlalu jauh.
Meninggalkan tanah kelahiran bukanlah perkara sederhana bagi seorang anak.
Ada lingkungan baru yang harus dikenali. Ada kebiasaan yang harus disesuaikan. Ada tantangan
dalam pendidikan. Ada rasa rindu terhadap rumah, tanah Papua, dan orang-orang yang selama ini
dekat dengannya.
Namun di balik semua itu, ada sebuah pesan yang terus dibawa Alo: jangan takut bermimpi.
Dan mungkin, salah satu alasan Alo berani melangkah adalah karena ia tahu ada seseorang yang
percaya kepadanya.
Tisantro.
Ia tidak sekadar membantu Alo untuk pergi lebih jauh. Ia ingin Alo memahami bahwa perjalanan
tersebut bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah kehidupan yang lebih luas.
Bukan sekadar membantu, tetapi menyayangi
Apa yang dilakukan Tisantro terasa berbeda karena kepeduliannya tidak berhenti pada
pemberian.Ia tidak sekadar ingin melihat Alo mendapatkan sesuatu. Ia ingin melihat Alo bertumbuh
menjadi seseorang.
Ada perbedaan besar antara memberikan sesuatu kepada seorang anak dan berjalan bersama
seorang anak.
Memberikan sesuatu mungkin hanya berlangsung sesaat.
Tetapi berjalan bersama berarti bersedia melihat prosesnya—ketika anak itu jatuh, bangkit,
melakukan kesalahan, belajar, menangis, tertawa, dan akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Itulah yang membuat hubungan Tisantro dan Alo terasa begitu manusiawi.
Kasih Tisantro kepada Alo bukan kasih yang datang dengan syarat. Bukan pula kasih yang
menunggu balasan.
Ia seperti seorang penjaga yang berdiri sedikit di belakang, membiarkan Alo berjalan dengan
kakinya sendiri, tetapi selalu siap mengulurkan tangan ketika langkah itu mulai goyah.
Papua yang selalu memiliki tempat di hati
Bagi Tisantro, kecintaannya kepada anak-anak Papua bukan sekadar cerita tentang satu orang
Alo.
Alo menjadi salah satu wajah dari begitu banyak anak Papua yang memiliki potensi besar, tetapi
terkadang belum mendapatkan ruang yang cukup untuk menunjukkan kemampuannya.
Karena itu, kepedulian Tisantro terasa seperti sebuah pesan yang lebih besar.
Bahwa anak-anak Papua tidak boleh hanya dilihat dari keterbatasannya.
Di balik kesederhanaan mereka, ada mimpi.
Di balik senyum mereka, ada harapan.
Di balik langkah kecil mereka, ada masa depan yang mungkin jauh lebih besar daripada yang
dibayangkan.
Dan Tisantro seolah memilih untuk percaya pada masa depan itu.
Ia mencintai mereka bukan karena mereka harus menjadi sesuatu terlebih dahulu. Ia mencintai
mereka karena mereka adalah anak-anak yang layak mendapatkan kasih sayang.
Sebuah cinta yang mungkin tidak banyak bicara
Tidak semua bentuk cinta harus diucapkan.Terkadang cinta hadir dalam bentuk seseorang yang mau meluangkan waktu.
Dalam bentuk seseorang yang mengingat hal-hal kecil.
Dalam bentuk seseorang yang tetap peduli ketika tidak ada kamera yang merekam.
Dalam bentuk seseorang yang memilih untuk tidak pergi ketika sebuah perjalanan menjadi sulit.
Begitu pula dengan Tisantro.
Kecintaannya kepada Alo dan anak-anak Papua terasa bukan sebagai sesuatu yang dibuat untuk
terlihat besar, tetapi tumbuh secara alami dari hati.
Ia mungkin seorang prajurit dengan seragam dan tugas negara di pundaknya. Namun di hadapan
anak-anak Papua, ia juga hadir sebagai seorang manusia yang memiliki hati.
Hati yang ingin melihat mereka tersenyum.
Hati yang ingin melihat mereka bersekolah.
Hati yang ingin melihat mereka berani bermimpi.
Dan hati yang ingin memastikan bahwa mereka tahu satu hal sederhana: mereka tidak
sendirian.
Karena setiap anak berhak memiliki seseorang yang percaya kepadanya
Pada akhirnya, kisah Tisantro dan Alo bukan hanya tentang seorang prajurit yang membantu
seorang anak.
Ini adalah cerita tentang kasih yang tumbuh dari sebuah pertemuan.
Tentang seorang manusia yang memilih untuk membuka hatinya bagi anak yang bukan berasal
dari keluarganya, tetapi kemudian ia sayangi seperti keluarga sendiri.
Tisantro mungkin tidak mampu mengubah seluruh kehidupan anak-anak Papua dalam satu
waktu. Tetapi melalui satu anak, ia telah menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari
sesuatu yang sangat sederhana: kepedulian.
Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling tulus.
Bukan cinta yang banyak berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan cinta yang bekerja dalam
diam.
Cinta yang tidak bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”Tetapi bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar anak ini memiliki masa depan yang lebih
baik?”
Bagi Alo, Tisantro mungkin bukan sekadar seseorang yang pernah hadir ketika ia membutuhkan
bantuan.
Ia adalah salah satu orang yang pernah mengatakan kepadanya, secara langsung maupun melalui
tindakan:
“Kamu berharga. Kamu punya masa depan. Kamu boleh bermimpi setinggi langit.”
Dan bagi Tisantro, Alo mungkin hanyalah satu anak dari tanah Papua.
Tetapi dari satu anak itulah terlihat betapa luas hatinya.
Sebab ketika seseorang mampu mencintai seorang anak dengan tulus tanpa memandang
perbedaan, sesungguhnya ia sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar
bantuan.
Ia sedang menanam harapan.
Dan semoga harapan itu kelak tumbuh menjadi pohon yang rindang, tempat Alo dan anak-anak
Papua lainnya dapat berteduh, tumbuh, dan mengejar mimpi mereka