Tanah, Keringat, dan Harapan Seorang Anak Malind

Kalau kita mau berubah dan berinovasi, tanah ini bisa kasih hidup. Jangan tunggu orang lain datang, kita sendiri harus mulai.

Sawah milikk Walson Mahuze (foto: IPS)

Info Papua Selatan, Okaba -Di sebuah sudut tenang Distrik Okaba, angin lembut membawa aroma tanah basah dari lahan padi milik seorang pemuda Malind bernama Walson Mahuze. Dulu, ia adalah pemburu dan nelayan. Setiap hari bergelut dengan hutan dan laut, berharap hasil tangkapan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi, hidup tak selalu berpihak. Kadang hasil buruan sedikit, kadang ombak tak bersahabat. “Hasilnya tidak tentu, kadang cukup, kadang tidak,” ujarnya mengenang masa lalu.

Namun, hidup baginya bukan sekadar menerima nasib. Tahun 2012 menjadi titik balik. Dari kelelahan mengejar hasil yang tak menentu, tumbuh tekad untuk menanam harapan di tanah sendiri. Ia memutuskan menjadi petani Papua sebuah pilihan yang bagi sebagian orang dianggap sederhana, tapi bagi Walson, inilah jalan perubahan.

“Awalnya saya hanya berpikir sederhana,” katanya sambil tersenyum, “harga beras di Okaba terus naik, bisa sampai dua puluh ribu per kilo. Kalau terus begini, bagaimana kami bisa bertahan?” Dari kegelisahan itulah, tumbuh kesadaran bahwa menanam padi bukan hanya soal perut, tapi tentang kemandirian dan masa depan.

Kini, lahan yang dulu kosong berubah menjadi hamparan hijau. Padi tumbuh subur di bawah sinar matahari pesisir selatan Papua. Dari hasil panennya, Walson tidak hanya mencukupi kebutuhan keluarga, tapi juga membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan. “Kadang hasil padi saya kasih juga ke keluarga. Ini cara saya berbagi berkat,” ujarnya dengan rendah hati.

Namun, di balik keberhasilannya, tersimpan sedikit keprihatinan. Ia sering merasa heran melihat saudara-saudaranya yang enggan belajar bercocok tanam. “Kadang saya bingung dengan saudara-saudara yang tidak mau belajar pertanian dari para pendatang,” tuturnya. Baginya, ilmu bukan soal siapa yang membawa, tapi bagaimana kita memanfaatkannya untuk hidup lebih baik.

Melalui pertanian, Walson menemukan makna baru dalam bekerja. Ia tidak lagi bergantung pada musim atau nasib, tapi pada kerja keras dan tekad. Ia percaya bahwa orang Malind memiliki tanah yang luas, hanya perlu kemauan untuk mengolahnya.

Pesannya sederhana namun dalam:

 “Kalau kita mau berubah dan berinovasi, tanah ini bisa kasih hidup. Jangan tunggu orang lain datang, kita sendiri harus mulai.”

Kisah Walson Mahuze bukan hanya cerita tentang bertani. Ini adalah kisah tentang keberanian mengambil keputusan, tentang cinta pada tanah leluhur, dan tentang keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dari sebutir benih yang ditanam dengan harapan. (JR)

AGENDA
LINK TERKAIT